Tak Ada Mitan Kayupun Jadi

2904_anak-dan-ibu-cari-kayu-bakar1jpg2

Bocah : Disaat teman2 sebayanya bermain ceria seorang bocah warga Tutur kawasan Bromo Kabupaten Pasuruan harus rela membantu orang tua dibelakangnya untuk mencari kayu bakar agar dapurnya tetap mengepul.

Pulang sekolah tempuh 1 Km cari kayu bakar

Pasuruan : Minyak tanah (Mitan) bagi warga suku tengger di kawasan gunung bromo adalah barang langka dan istimewa. Pasalnya harga di sana rata-rata Rp.5.000 per liternya. Ditingkat pengecer dihargai Rp. 4.000 rupiah. Harga tersebut dinilai warga sangat tinggi hingga tak mampu membelinya.

Saat ini Mereka lebih sering menggunakan kayu bakar untuk bahan bakar memasak dengan cara berdian agar dapurnya tetap mengepul. Kenyataan ini tak sebanding dengan promosi program pemerintah menggelontor ribuan elpiji 3 kg yang dikenal gratis dan murah tetapi masyarakat suku tengger tidak mampu membelinya.

Ngatemi, 57, warga dusun Baledono di Dusun Baledono, Kecamatan Tosari, mengatakan setiap harinya membutuhkan tiga karung kayu bakar, “Sejak dulu kami selalu menggunakan kayu bakar, setiap hari sekali saya beserta anak saya mencari kayu bakar di ladang sekitar 1 km dari rumah, kayu bakar tersebut di gunakan dalam kebutuhan sehari-hari,” ungkap Ngatemi

Menurut Ngatemi harga di pasaran saat ini pengecer mitan menjual minyaknya dengan harga rata-rata Rp 4.000 per liter. Bahkan ada juga beberapa pengecer yang menjualnya dengan harga Rp 5.000 per liter, “Untuk harga seperti itu saya tidak kuat untuk membelinya, lebih baik saya memilih mencari kayu bakar di ladang kami, ketimbang membeli minyak tanah yang melambung tingi,” kata Ngatemi di sela-sela membawa kayu bakarnya yang di bantu dengan anak terakhirnya

Kepala Desa Wonokitri, Wartono mengatakan sebagaian besar setiap warga suku Tengger yang tinggal di kawasan Gunung Bromo menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utamanya. Sementara kayu bakar yang digunakan untuk memasak tak terhitung jumlahnya karena warga setiap harinya mengambil kayu ke ladangnya masing-masing.


Selain untuk bahan utama kayu bakar, Wartono menjelaskan setelah krisis energi yang berdampak harga minyak tanah menjadi melambung, kayu bakar yang sempat ditinggalkan warga suku Tengger di Gunung Bromo, kini digunakan lagi, “Untuk menghangatkan ruangan warga memilih menggunakan bahan bakar arang karena tidak menimbulkan asap yang memedaskan mata. Untuk keperluan masak-memasak, warga kembali menggunakan kayu bakar karena mudah didapatkannya. Walau menimbulkan asap, letak dapurnya terpisah dari rumah induk,” kata Wartono.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: